EKONOMIDIGITAL.CO.ID — Capaian itu menjadikan perusahaan tambang dan pemurnian nikel ini sebagai salah satu penerima Anugerah Ekonomi Hijau untuk kategori Pengelolaan Sumber Daya Air dan Restorasi Ekosistem Berkelanjutan. Penghargaan diberikan kepada korporasi yang dinilai memiliki kepedulian tinggi terhadap aspek ESG dan menghadirkan program yang berdampak sosial-ekonomi bagi masyarakat.
Strategi Konservasi Air di Balik Operasional Smelter
Air merupakan salah satu komponen krusial dalam proses pengolahan nikel, terutama untuk pabrik HPAL (High Pressure Acid Leach) dan RKEF (Rotary Kiln-Electric Furnace). Untuk menekan penggunaan air tawar, Harita Nickel mengandalkan beberapa sumber alternatif.
Perusahaan memanfaatkan decant water atau air limpasan dari tailing sebagai air proses HPAL. Di sisi lain, pabrik RKEF menerapkan sistem daur ulang air proses untuk digunakan kembali. Air hujan dan air limpasan permukaan turut dikumpulkan dan diolah, hasilnya dipakai untuk penyiraman jalan tambang maupun kebutuhan operasional lain.
Air laut juga dimanfaatkan sebagai agen pendingin dan pengendap sedimen. Langkah ini secara signifikan mengurangi ketergantungan operasional smelter pada sumber air tawar yang juga dibutuhkan masyarakat sekitar.
Pemantauan Real Time dan Upaya Restorasi Ekosistem
Pengelolaan air tidak berhenti pada efisiensi pemakaian. Harita Nickel memastikan seluruh air limpasan operasional dialirkan ke kolam sedimentasi sebelum dilepas ke lingkungan. Kualitas air dipantau menggunakan sistem SPARING yang terkoneksi secara real time dengan Kementerian Lingkungan Hidup sebagai bentuk transparansi kepatuhan.
Komitmen keberlanjutan perusahaan juga diwujudkan lewat restorasi ekosistem. Di Halmahera Selatan, kegiatan reklamasi lahan bekas tambang dan penanaman mangrove terus digalakkan. Perusahaan juga melakukan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) untuk menjaga fungsi hidrologis kawasan.
Standar Audit Internasional dan Proses Seleksi Penghargaan
Agar pengelolaan lingkungannya terukur, Harita Nickel mengikuti audit dan penilaian berdasarkan standar global, termasuk RMAP (Responsible Minerals Assurance Process) dari RMI serta IRMA (Initiative for Responsible Mining Assurance). Sertifikasi ini menjadi acuan bagi pembeli dan investor untuk memastikan praktik tambang yang bertanggung jawab.
Penghargaan yang diterima perusahaan merupakan hasil penilaian Komite Asesmen detikcom. Proses evaluasi dilakukan menggunakan analisis kualitatif terhadap berbagai inisiatif yang dijalankan peserta, terutama dari sisi dampak nyata dan konsistensi komitmen keberlanjutan.