Riyadh Jadi Sasaran Udara Houthi, Serangan Pertama Ibu Kota Arab Saudi

Minggu, 20 September 2026 | 01:21:32 WIB

EKONOMIDIGITAL.CO.ID — Kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan udara ke Riyadh, menandai pertama kalinya ibu kota Arab Saudi menjadi target langsung sejak konflik Yaman memanas kembali pada Juli. Otoritas Saudi mengeluarkan peringatan darurat sebelum ledakan terdengar, sementara militer Saudi membalas dengan 26 serangan ke markas Houthi dalam 24 jam terakhir.

Ledakan terdengar di Riyadh setelah otoritas Arab Saudi mengirim peringatan serangan udara kepada penduduk. Peringatan itu muncul menyusul ancaman Houthi yang berbasis di Yaman.

"Wilayah ini berada di bawah ancaman udara musuh," demikian bunyi pesan peringatan yang diterima penduduk ibu kota Arab Saudi, dikutip kantor berita AFP, Sabtu (19/9/2026).

Ini menjadi pertama kalinya Riyadh terdampak secara langsung sejak konflik di negara tetangga, Yaman, kembali memanas pada Juli. Eskalasi tersebut menandai babak baru ketegangan antara Houthi dan koalisi pimpinan Saudi.

26 Serangan Saudi dalam 24 Jam

Houthi melaporkan militer Saudi telah melancarkan 26 serangan ke wilayah Yaman dalam 24 jam terakhir. Serangan itu mulai dilakukan pada Jumat (18/9) dan diarahkan ke wilayah-wilayah yang menjadi markas Houthi.

Intensitas gempuran militer Saudi ke Yaman menurut Houthi melonjak dalam beberapa hari terakhir. Dalam sepekan, Saudi telah melepaskan 300 serangan ke wilayah Yaman yang dikuasai Houthi.

Blokade Selat Bab al-Mandab dan Krisis Kemanusiaan

Bulan ini, Houthi yang menguasai sebagian besar wilayah berpopulasi di Yaman melancarkan serangan kilat untuk menguasai seluruh pesisir Laut Merah. Langkah itu memberi mereka kendali atas Selat Bab al-Mandab yang vital.

Kelompok berbasis komunitas Syiah Zaidiyah dari Yaman utara tersebut menyatakan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Jalur itu kerap digunakan Saudi untuk mengekspor minyak guna menghindari Selat Hormuz yang turut ditutup akibat perang Timur Tengah.

Houthi menegaskan jalur navigasi di selat tersebut tetap terbuka dan bebas bagi siapa saja, kecuali untuk kapal-kapal milik Arab Saudi.

112.000 Orang Mengungsi

PBB menyatakan pertempuran yang kembali berkobar telah memaksa lebih dari 112.000 orang mengungsi. Hampir 3.000 orang lainnya melarikan diri menyeberangi laut menuju Djibouti.

Pada 2025, PBB telah memperingatkan bahwa 17 juta warga di Yaman berjuang keras untuk mendapatkan makanan. Satu juta orang lainnya terancam kelaparan ekstrem.

Perang ini dimulai pada 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa. Konflik sempat mereda sejak 2022 namun kembali memanas secara drastis pada Juli.

Sejak 2015, Arab Saudi memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Intervensi tersebut memperluas eskalasi perang dan memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Terkini