BSSN dan Huawei Perbarui Kerja Sama Keamanan Siber, Targetkan Mitigasi Ancaman AI dan Komputasi Kuantum

BSSN dan Huawei Perbarui Kerja Sama Keamanan Siber, Targetkan Mitigasi Ancaman AI dan Komputasi Kuantum
Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi dan CEO Huawei Indonesia Guo Hailong menandatangani pembaruan nota kesepahaman kerja sama keamanan siber di Jakarta, 10 Agustus 2026.

JAKARTA — BSSN dan Huawei Indonesia menandatangani pembaruan Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama keamanan siber di Jakarta pada 10 Agustus 2026. Dokumen tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi dan CEO Huawei Indonesia Guo Hailong, disaksikan Sean Yang selaku Huawei Global Cybersecurity and Privacy Officer.

Kemitraan ini telah mengakar sejak 29 Oktober 2019 dan rutin diperbarui pada 2021 serta 2023. Rekam jejaknya produktif: lebih dari 200 kegiatan kolaboratif telah menjangkau 39.000 peserta di seluruh Indonesia.

Fokus Baru: AI dan Komputasi Kuantum

Kolaborasi publik-swasta ini tidak lagi sekadar pelatihan konvensional. Ke depan, sinergi diarahkan untuk memitigasi tantangan keamanan yang muncul seiring pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan dan komputasi kuantum.

Langkah strategis yang direncanakan mencakup penyusunan makalah riset bersama, seminar edukatif, kampanye kesadaran siber, hingga maturity assessment. Program pengembangan keterampilan juga menyasar pertahanan berbasis AI dan sistem keamanan siber untuk sektor industri.

Peran Sektor Swasta dalam Strategi Quad-Helix

Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi menekankan bahwa pembaruan MoU ini menjadi batu loncatan untuk memperkuat sinergi nasional membangun kapasitas keamanan siber yang tangguh. Ia menyebut sektor swasta memegang peran krusial dalam melindungi ruang siber nasional.

"Sejalan dengan semangat quad-helix dalam Strategi Keamanan Siber dan Sandi, sektor swasta memiliki peran krusial dalam melindungi ruang siber nasional," ujar Nugroho. Ia berharap kemitraan dengan penyedia teknologi global seperti Huawei mampu mendorong kesadaran masyarakat dan melahirkan program inovatif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Ancaman Siber Tak Bisa Diselesaikan Parsial

Cyber Security and Privacy Officer (CSPO) Huawei Indonesia, Syarbeni, mengingatkan bahwa kompleksitas ancaman siber menuntut pendekatan terkoordinasi. Menurutnya, penyelesaian parsial tidak akan cukup menghadapi serangan yang kian canggih.

"Diperlukan pendekatan terkoordinasi yang melibatkan lintas industri serta masyarakat luas dengan cara berbagi praktik terbaik demi perlindungan data dan privasi yang optimal," kata Syarbeni. Sinergi dan asas saling percaya juga digaungkan Sean Yang, yang menilai ekosistem kepercayaan digital yang tangguh memerlukan kolaborasi erat dari seluruh elemen.

Selain memperkuat pertahanan, kerja sama ini menyasar pencetakan talenta digital lokal agar siap bersaing di kancah global. Program pengembangan keterampilan menjadi salah satu pilar utama yang telah berjalan selama bertahun-tahun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index