EKONOMIDIGITAL.CO.ID — Mantan striker Barcelona dan Inter Milan itu menyampaikan sikapnya kepada media Perancis, L'Equipe. Eto'o tidak membahas kemungkinan presiden FIFA tersingkir sebagai persoalan pribadi, melainkan sebagai pertarungan representasi: Afrika, menurut dia, sudah lama menjadi pasar sepakbola yang kepentingannya dikelola oleh Eropa.
Federasi Eropa menyalahkan Infantino atas berbagai keputusan tata kelola. Namun Eto'o justru menegaskan: selama kepemimpinan presiden asal Swiss itu, Africa Football Federation—bukan UEFA—mendapatkan manfaat infrastruktur paling konkret dalam sejarah FIFA.
FIFA Forward: Bukti Nyata yang Disesampingkan Kritikus Infantino
Eto'o tidak menampik bahwa sepakbola telah menjadi industri. Ia justru menolak bila FIFA dipaksa berjalan dengan logika yang benar-benar sama dengan standar klub-klub kaya Eropa. Menurutnya, program FIFA Forward yang membiayai markas federasi dan pembinaan usia muda adalah modal besar yang belum dihitung oleh kritikus.
"Sepakbola sudah menjadi produk komersial. Siapa yang mendanai sepakbola? Perusahaan-perusahaan yang membeli ruang iklan. Siapa yang memiliki perusahaan-perusahaan itu? Eropa juga menjaga kepentingannya sendiri, di bawah tekanan dari klub-klub," kata Eto'o.
Presiden FECAFOOT itu meminta publik melihat dari sudut pandang federasi kecil. Ia mencontohkan kondisi klub-klub di Afrika yang hampir mustahil beroperasi tanpa sokongan negara.
"Untuk beberapa federasi, 95 persen atau bahkan 100 persen pendanaan berasal dari negara yang sudah bergulat dengan tantangan yang sangat besar. Menurut Anda, apakah kami bisa bermain sepakbola tanpa pemerintah?" ujarnya.
Eto'o: "Eropa Bukan Satu-Satunya Konfederasi yang Benar"
Fakta bahwa kritik terhadap Infantino hanya datang dari UEFA dianggap Eto'o sebagai cara pandang yang sempit. Ia mengingatkan FIFA setidaknya terdiri dari 211 federasi anggota, dan Afrika hanya salah satu bagiannya—bukan bawahan.
"UEFA adalah konfederasi yang penting dan berkontribusi besar, tetapi UEFA tidak seharusnya dipandang sebagai satu-satunya," tutur legenda Kamerun itu.
Di mata Eto'o, pembangunan stadion, markas federasi, dan pembinaan pemain yang dibiayai lewat program FIFA Forward tidak bisa dianggap sekadar kompensasi politik. Ia bahkan membandingkannya dengan masa lalu ketika legenda seperti Roger Milla berkembang secara sporadis, tanpa dukungan akademi terstruktur.
"Hari ini, presiden FIFA memberi orang-orang Afrika kesempatan untuk bermimpi mengembangkan olahraga ini. Ia telah membantu sepakbola Afrika. Dalam beberapa tahun, ketika kami memiliki pemain seperti Roger Milla atau Kylian Mbappe, itu akan terjadi berkat pendanaan tersebut," kata Eto'o.
Mengapa Suara Eto'o Menjadi Amunisi Politik yang Penting Menuju Kongres
Dukungan eks striker Kamerun ini datang menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret. Wilayah Afrika memegang kendali besar atas hasil suara karena sebagian besar 211 federasi anggota dapat mencairkan mandatnya menjadi dukungan kepada Infantino.
Eto'o juga menanggapi serangan UEFA yang menuduh proses demokrasi FIFA menjadi tidak sehat. "Dalam pemilihan selalu ada risiko [kalah], tetapi itu tidak menghentikan saya untuk mendukungnya," ujarnya.
Ia justru menganggap keberhasilan memproduksi pendapatan tinggi dari turnamen sebagai prasyarat untuk membina sepakbola dunia. "Lihat keuntungan dari Piala Dunia di Qatar dan Amerika Serikat. Itulah yang kami inginkan. Jika kami tidak punya uang, kami tidak bisa mengembangkan olahraga ini," pungkasnya.